Tuban – Hamparan sawah di Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, mendadak menjadi sorotan publik setelah sebuah video memperlihatkan seorang petani “terbang” menggunakan drone pertanian berukuran besar viral di berbagai platform media sosial.
Video berdurasi 1 menit 14 detik itu menampilkan seorang pria bergelantungan menggunakan body harness yang dikaitkan pada drone. Dengan tenang, ia melayang di ketinggian sekitar 15 meter dari permukaan tanah dan menempuh jarak kurang lebih satu kilometer melintasi area persawahan.
Aksi tak biasa tersebut langsung memancing rasa penasaran warganet.
Aksi Viral Ternyata Hanya untuk Konten
Belakangan diketahui pria dalam video tersebut adalah Daeman (53), petani asal Kabupaten Jombang yang tengah mengelola perkebunan pisang Cavendish di wilayah Tuban.
Saat ditemui pada Selasa (07/97/2026), Daeman mengaku aksi tersebut dilakukan sekitar tiga hari sebelumnya dan pada awalnya hanya dibuat untuk kebutuhan konten media sosial.
“Awalnya hanya iseng untuk konten. Tapi memang drone ini setiap hari dipakai mengangkut bibit, pupuk, dan kebutuhan di lahan karena akses jalannya sulit,” ujarnya.
Drone Dipakai Angkut Bibit dan Pupuk
Di balik video yang viral, drone tersebut sebenarnya memiliki fungsi utama sebagai alat bantu operasional pertanian.
Dengan kapasitas angkut sekitar 150 kilogram, drone digunakan untuk mengangkut bibit pisang Cavendish, pupuk organik, hingga rumput dari dan menuju area perkebunan.
Menurut Daeman, penggunaan drone menjadi solusi karena akses menuju lahan cukup sulit dilalui kendaraan bermotor. Kehadiran teknologi tersebut membuat distribusi logistik pertanian menjadi lebih cepat dan efisien.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, perkebunan pisang Cavendish tersebut merupakan milik seorang pengusaha asal Kabupaten Jombang yang mengelola lahan seluas sekitar 12 hektare di wilayah Tuban.
“Benar, pemilik usaha ini berasal dari Jombang yang kebetulan sedang menggarap perkebunan pisang Cavendish di Tuban dengan luas lahan kurang lebih sekitar 12 hektare,” kata Daeman.
Teknologi Pertanian yang Menarik Perhatian
Fenomena ini memantik perhatian masyarakat. Sejumlah petani mulai melihat drone bukan hanya sebagai alat penyemprot tanaman, tetapi juga alternatif untuk mendukung distribusi logistik di lahan yang sulit dijangkau kendaraan.
Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu menghemat waktu, tenaga, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di sektor pertanian.
Meski demikian, penggunaan drone untuk mengangkut manusia bukan merupakan fungsi utama perangkat tersebut. Pengoperasiannya tetap harus mengedepankan aspek keselamatan serta mematuhi ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan risiko bagi pengguna maupun lingkungan sekitar.
Sebagai informasi, drone pertanian dengan spesifikasi serupa diperkirakan memiliki nilai investasi sekitar Rp500 juta. Nilai tersebut sebanding dengan kemampuan angkut dan efisiensi yang ditawarkan, terutama bagi pelaku usaha maupun petani yang mengelola lahan dengan akses transportasi terbatas. (Aj)












